Sabtu, 27 Februari 2010

kurikuler


Sarana i'dadul quwwah

mode

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang begitu banyak di atas, maka sebagai solusinya adalah merubah system pendidikan di pondok pesantren Muhammadiyah Roudhotun Nasyi’in dengan menyelenggarakan pendidikan terpadu. Pendidikan terpadu adalah dengan menggabungkan dua muatan kurikulum; kurikulum SMP yang didominasi oleh mata-mata pelajaran umum dengan kurikulum pondok yang didominasi oleh mata-mata pelajaran agama sehingga akan tercipta pendidikan yang komfrehensif, integral tidak parsial dengan memarginalkan salah satu materi tertentu. Dengan kurikulum yang terpadu juga akan mengikis bahkan menghilangkan pendikotomian ilmu.
Kurikulum terpadu adalah ramuan yang berasal dari mata-mata pelajaran SMP yang berasal dari kurikulum departemen pendidikan Nasional dengan mata-mata pelajaran kepondokan dibaurkan penyelenggaraannya pada kegiatan belajar mengajar yang diselengarakan mulai jam 7.00 pagi sampai rata-rata jam 13.40 siang yang mana dalam seharinya ada 9 jam pelajaran dan satu jam pelajarannya adalah 40 menit.
Para santri yang belajar di pondok pesantren terpadu Roudhotun Nasyi’in akan didik di dalam sebuah komonitas atau lingkungan yang Insya Allah menjujung tinggi nilai-nilai Islam termasuk dalam pergaulan antara putra dan putri melalui pengawasan yang berkesinambungan tidak hanya ketika di dalam kelas tapi juga di luar kelas bahkan ketika di kamar sekalipun sehingga diharapkan sedini mungkin akan mendeteksi “Hidden Curriculum” yang negative.
Pada saat santri belajar malam, maka akan dilaksanakan pendampingan belajar dalam mata-mata pelajaran yang diujian nasionalkan seperti; Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika dan Biologi sehingga diharapkan penguasaan, pemahaman santri dengan mata-mata pelajaran tersebut akan lebih baik.
Pada tahun pertama santri berada di pondok, semester pertama mereka akan dibekali dengan kosa-kosa kata bahasa Arab yang akan disampaikan pada saat belajar malam setiap harinya adalah tiga kosa kata dan wajib dihafalkan. Seiring dengan pemberian kosa kata Arab setiap harinya dalam kegiatan belajar akan dibekali dengan ilmu Nahwi dan Shorof sebagai teori untuk mempraktekan kosa kata yang dihafalkannya. Untuk tahun keduanya sebagaimana tahun pertama, namun untuk tahun kedua ini adalah untuk behasa Inggrisnya.
Untuk kegiatan ekstra kurikulernya untuk tahun pertama adalah kaligrafi, tahun kedua adalah sablon dan tahun ketiga adalah menjahit serta tidak menutup kemungkinan ada bentuk kegiatan ekstra kurikuler yang baru.
Dengan konsep pendidikan terpadu ini, maka paling tidak ada tiga keuntungan yang begitu urgen :
1. Pendidikan agama akan lebih memadai dengan semakin banyaknya porsi waktu yang dialokasikan untuk mata-mata pelajaran agama sehingga diharapkan secar keilmuan akan lebih banyak yang dapat ditransfer dan lebih mendalam pemahamannya tentang ilmu-ilmu agama.
2. Tidak ketinggalan dengan ilmu-ilmu agama,, ilmu-ilmu yang bersifat umumpun akan didapatkan oleh peserta didik dalam jumlah yang proposional dan refresentatif.
3. Dengan system “Booarding School” (dipondokan/diasramakan) para santri akan mudah diawasi dalam beriteraksi social dengan teman-temannya dan akan mendapatkan bi’ah (lingkungan) yang kondusif untuk menanamkan nilai-nilai Islami dan sebaliknya akan lebih efektif untuk memproteksi santri-santrinya dari kantaminasi polusi-polusi akhlah-akhlak yang negatif dan detruktif.
a. Visi Pendidikan di Ponpes Terpadu Roudhotun Nasyi’in:
Mencetak generasi Islam yang beriman, berilmu dan beramal dengan ilmunya serta mampu mendakwahkannya, mampu mengkorelasikan ayat-ayat Qur’aniyah denga ayat-ayat Kauniyah, berjiwa entrepreneurshif.
b. Misi Pendidikan :
Insya Allah mencetak santri